Dirjen Daglu pada Diskusi Economic Challenges Metro TV

1 2 3

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan hadir dalam diskusi Economic Challenges, yang disiarkan langsung oleh Metro TV Jakarta pada hari Senin, 10 Juli 2018. Diskusi mengupas Perang Dagang AS-RRT dan Langkah Pemerintah RI terkait Perdagangan dalam menghadapi kondisi tersebut.

Presiden AS, Trump merealisasikan beberapa janji kampanyenya antara lain: Pengenaan bea masuk impor 25% untuk baja dan 10% untuk aluminum, Mengenakan tarif tambahan 25% untuk produk teknologi asal RRT, Menaikkan target tarif impor bagi RRT sebesar USD 100 miliar. Sedangkan RRT Menaikan tarif impor 128 produk AS senilai USD 3 miliar dan menaikkan tarif untuk 106 produk impor dari AS senilai USD 50 miliar.

Indonesia berada dalam urutan negara penyumbang defisit AS terbesar, Indonesia berada dalam urutan ke -16. Pada tanggal 13 April 2018, USTR merilis dimulainya GSP Country Practice Review terhadap India, Indonesia, dan Kazakhstan.  Review GSP sebagai langkah serius AS untuk meminimisasi defisit neraca perdagangan dengan beberapa mitra dagangnya. Review terhadap Indonesia berdasarkan kriteria market access barang, jasa, dan investasi AS yang terhambat di Indonesia. Negara Penerima GSP AS terbesar, tahun 2017: India (USD 5,6 miliar), Thailand (USD 4,2 miliar), Brazil (USD 2,5 miliar), Indonesia (USD 1,9 miliar).

Oke menyampaikan bahwa, trade war AS-RRT juga memberikan peluang kepada Indonesia untuk mensuplai komoditi-komditi di AS yang selama ini dipenuhi dari RRT contoh baja dan aluminium, dengan catatan tidak terdapat barrier yang sedang dialami Indonesia untuk mengekspor komoditi tersebut ke AS. Demikian juga untuk peluang ekspor komoditi ke RRT yang selama ini dipenuhi oleh Amerika contoh buah-buahan, besi baja, aluminium, daging, minuman, biji-bijian berminyak.

Adapun langkah-langkah Pemerintah dalam menyikapi perang dagang antara lain: melakukan pendekatan bilateral kepada Amerika Serikat, Memfasilitasi pertemuan para eksportir Indonesia penerima GSP dari AS dengan para importir asal Amerika Serikat untuk memperjuangkan fasilitas GSP tetap diberikan kepada Indonesia.Mengendalikan impor barang konsumsi, namun tetap memperhatikan ketersediaan bahan baku dan barang modal. Sedangkan jangka menengah mempercepat ratifikasi sejumlah perjanjian FTA dengan negara mitra dagang yang sudah diselesaikan, mendorong pemanfaatan FTA, mengatasi berbagai hambatan ekspor di negara mitra dagang, peningkatan akses pasar ekspor melalui PTA, FTA dan CEPA, memaksimalkan instrumen trade remedy (safeguards, anti dumping dan anti subsidy), Review dan menurunkan tarif bahan baku, barang modal dan streamlining ekspor dan impor licensing. Untuk jangka panjang pemerintah berupaya untuk diversifikasi ekspor ke pasar non tradisional (bilateral dan regional FTA, misi dagang), menurunkan tarif bahan baku dan barang modal untuk meningkatkan daya saing produk ekspor, meningkatkan ekspor produk bernilai tambah tinggi dan meningkatkan ekspor jasa.

Selengkapnya klik link berikut : http://m.metrotvnews.com/play/2018/07/10/899610



  •