Focus Group Discussion (FGD) “Ekspor Alas Kaki sebagai Penyokong Ekspor Nasional di Masa Pandemi Covid-19”

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Direktorat Ekspor Produk Industri dan Pertambangan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Ekspor Alas Kaki sebagai Penyokong Ekspor Nasional di Masa Pandemi Covid-19”, pada hari Kamis, 6 Agustus 2020.

Focus Group Discussion (FGD) tersebut dilaksanakan dalam rangka membahas tentang permasalahan, peluang, tantangan dan strategi peningkatan ekspor Alas Kaki di tengah pandemi Covid-19. Pertemuan ini dimulai dengan sambutan oleh Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan, Merry Maryati, dan dilanjutkan dengan paparan dari Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Kementerian Keuangan; Direktur Industri Tekstil Kulit dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian; Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO); Atase Perdagangan di Washington DC; dan Atase Perdagangan di Brussel. Peserta terdiri dari instansi terkait seperti BKPM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM serta pelaku usaha alas kaki, Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia dan APRISINDO.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa dari sisi ekspor, produk alas kaki masih tumbuh positif hingga Juni 2020. Ekspor alas kaki termasuk dalam 10 komoditas ekspor terbesar dan merupakan salah satu sektor unggulan. Di sisi lain, impor alas kaki relatif kecil sehingga secara neto, komoditas alas kaki mencatatkan surplus dan mendukung pendapatan devisa nasional. Dengan kata lain, peluang ekspor alas kaki masih cukup menjanjikan di masa mendatang Namun, pelemahan permintaan negara mitra dagang utama perlu diwaspadai berpotensi mempengaruhi ekspor alas kaki. Salah satu kebijakan fiskal untuk mendorong aktivitas industri dan pencegahan pemutusan tenaga kerja adalah Program Penjaminan Pemerintah kepada Korporasi Padat Karya, dimana alas kaki termasuk dalam sektor prioritas yang mendapat program tersebut.

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, menyampaikan bahwa strategi peningkatan ekspor alas kaki antara lain melalui usaha pemulihan pasar ekspor dengan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas industri yang telah ada, ekspor berkualitas melalui penguatan ¬rantai pasok, promosi dan optimalisasi perjanjian perdagangan, serta meningkatkan kapasitas dan kerjasama luar negeri untuk produk dengan permintaan tinggi. Sedangkan upaya mendorong pasar domestik yaitu dengan peningkatan utilisasi melalui implementasi TKDN di Kementerian dan Lembaga serta BUMN, mendorong peningkatan Circular Economy, dan peningkatan utilisasi melalui permintaan domestik (Aku Bangga Produk Indonesia).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonseia (APRISINDO) menyampaikan beberapa usulan, antara lain: pengecualian pengenaan BMTP atas impor kain bagi industri alas kaki; bantuan modal kerja bagi perusahaan pasca pandemic COVID-19; dukungan pemerintah untuk mengajukan restrukturisasi hutang bank; percepatan penyelesaian perundingan Indonesia-EU CEPA; promosi pasar offline dan online; mewajibkan penggunaan produk dalam negeri; serta penguatan dan penambahan stimulus PPh Badan dengan menghapus PPH Badan bagi industri selama 12 (dua belas) bulan.

Atase Perdagangan di Washington DC menyampaikan bahwa pasar produk alas kaki Amerika Serikat mengalami perubahan selama pandemi, dimana terjadi penurunan nilai impor yang juga mempengaruhi penurunan pengeluaran konsumen AS untuk alas kaki dan penurunan penjualan retail produk alas kaki di pertokoan. Beliau juga memaparkan bahwa produk alas kaki yang beredar di Amerika Serikat 99% merupakan produk impor. Rata-rata tarif MFN untuk impor produk alas kaki di Amerika Serikat yaitu sebesar 16.5%, namun untuk produk alas kaki dari China terdapat tambahan tarif sebesar 7.5%.  Produk alas kaki sendiri tidak termasuk produk yang mendapatkan preferensi tarif dalam skema GSP AS.

Atase Perdagangan di Brussel menyampaikan paparan terkait regulasi impor produk alas kaki di Uni Eropa. Beliau juga memaparkan perihal tantangan yang Indonesia hadapi serta strategi untuk meningkatkan ekspor ke Uni Eropa. Strategi yang dapat diambil yaitu antara lain dengan pemanfaatan Tarif GSP, diversifikasi produk (tren fesyen ‘athlete leisure’), preferensi konsumen (Bio/Eco, Fair and Sustainable), menjaga kualitas dan keberlanjutan, serta harga dan pelayanan yang kompetitif.



  •