Perwakilan dari empat unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, yaitu Direktorat Pengamanan Perdagangan, Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Direktorat Impor, dan Sekretariat Ditjen Perdagangan Luar Negeri, bersama perwakilan Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag), Komite Antidumping Indonesia (KADI), Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI), serta akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Diponegoro (Undip), mengikuti Seminar on Trade Remedies and Industrial Security for Indonesia di Shanghai, Tiongkok, pada 3–16 September 2026. Kegiatan ini merupakan undangan dari Ministry of Commerce of the People’s Republic of China (MOFCOM) yang diselenggarakan bekerja sama dengan Shanghai Business School (SBS).
Direktur Pengamanan Perdagangan, Dr. Reza Pahlevi Chairul, mewakili Bapak Dirjen Perdagangan Luar Negeri dalam pembukaan Seminar on Trade Remedies and Industrial Security for Indonesia di Shanghai, China, 3 September 2026. Dalam sambutannya, Reza menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan China, sekaligus menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman China dalam penerapan trade remedies dan industrial security. Sejalan dengan pepatah, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.”
Peserta antusias mengikuti sesi pembelajaran dan diskusi dengan menyampaikan berbagai pertanyaan, terutama terkait koordinasi dan Early Warning System yang diterapkan Pemerintah China dalam menghadapi trade remedies, serta berbagai hambatan perdagangan global yang berkembang saat ini, seperti carbon tariffs dan green barriers.
Selain kegiatan di kelas, peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi di Shanghai untuk melihat secara langsung perkembangan industri, perdagangan, teknologi, dan inovasi di Tiongkok, salah satunya yaitu G60 Science and Technology Innovation Valley. Di lokasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai kemajuan inovasi dan teknologi Tiongkok, termasuk di bidang biologi, kesehatan, astronomi, kecerdasan artifisial (AI), serta mitigasi bencana. Peserta juga mengunjungi Fengxian Comprehensive Bonded Zone untuk mempelajari perkembangan perdagangan lintas batas (cross-border trade) serta pengelolaan kawasan perdagangan.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Kota Dongyang, Provinsi Zhejiang, dengan mengunjungi perusahaan di sektor mesin industri, peralatan rumah tangga, dan kosmetik untuk mempelajari pengembangan pasar internasional dan pencegahan risiko perdagangan. Peserta juga mengunjungi Hengdian Film and Television Cultural Industry Cluster dan sentra ukiran kayu untuk melihat pengembangan industri kreatif serta pemanfaatan potensi budaya dalam mendukung ekonomi daerah.
Keikutsertaan dalam seminar ini diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas dan wawasan peserta dalam menghadapi dinamika isu trade remedies global, tetapi juga mempererat sinergi antar kementerian/lembaga dan akademisi dalam memperkuat penanganan isu trade remedies di Indonesia.
Di sela kegiatan seminar, DPP dan Konsulat Jenderal RI di Shanghai turut memfasilitasi penjajakan potensi kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dan Tiongkok, antara lain dengan Fudan University dan Shanghai International Studies University. Penjajakan tersebut mencakup bidang akademik, penelitian, pengembangan kapasitas, serta pertukaran dosen dan mahasiswa, dan mendapat sambutan baik dari pihak perguruan tinggi di Tiongkok.

